Bahasa Indonesia | English | French
 

Warta Kampung

Kamis, 19 November 2009

Membincangkan persoalan kampung sendiri untuk perubahan dari kenyataan sehari-hari mengasyikan. Setidaknya, sarasehan hasil penelitian partisipatif temen-temen YPR, Selasa (17 /11/ 2009)  yang mengangkat tema “Potensi Keruangan dalam Mengembangkan Ekonomi dan Kajian Ekonomi Berbasis Kampung” dengan warga Kampung Bumen yang dihadiri oleh bapak-bapak, orang muda dan ibu-ibu ini, membuka ‘ruang ekspresi, berbagi ilmu dan menegaskan kembali harapan terhadap perbaikan-perbaikan kehidupan kampung Bumen yang sejak tahun 1965, mengalami kemunduran karena sebagian besar penduduknya menjadi korban tragedi kemanusiaan yang menyisakan trauma dan ketakutan hingga kini.

“Setelah 1965, perubahan drastis terjadi di Bumen. Sebagian besar warganya menjadi tahanan. kondisi ini mengakibatkan kehancuran masa depan dan  kehidupan masyarakat.  Anak-anak tidak bisa melanjutkan sekolah, kesempatan berkerja terbatas. Industri rumah tangga yang ada di Bumen hancur, ekonomi masyarakat menjadi lemah” tuturan Pak Wardoyo, salah seorang tokoh kampung Bumen memberikan tanggapan atas permasalahan dan temuan-temuan yang disampaikan oleh Maria Andriani dan Invani Lela Herliani.  Ide dasar penelitian ini diangkat dari sebuah pemikiran sederhana yang melihat Bumen sebagai bagian dari Kotagede yang telah menjadi ‘ikon pariwisata’ dan berada pada lokasi yang strategis secara keruangan, dekat dengan akses jalan lingkar selatan, terminal Giwangan, dan memiliki kekayaan warisan tradisi dan kebudayaan Mataram Islam yang hebat, tetapi Kampung Bumen masakini secara sosial-ekonomi dan kebudayaan terpinggirkan dalam konteks Kotagede.  

Dari aspek keruangan, Maria Andriani melihat bahwa Bumen memiliki potensi-potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan pariwisata melalui pengembangan identitas kampung dari legibilitas, identitias, tradisi dan kultur, vegetasi dan keunikan lokasinya.  Seperti, mengembangkan akses kampung lewat pembangunan identitas melalui ‘gerbang yang mudah ditangkap oleh para pengujung’. Akses secara keruangan untuk masuk ke Kampung Bumen tidak tampak dan orang yang memasuki Bumen seperti masuk dalam labirin yang menyesatkan.  Aspek legibilitas ini penting sebagai penegasan identitas. Di samping itu, pengembangan kreativitas untuk tujuan wisata alternatif berbasis kampung sangat vital.

Sementara Invani menemukan bahwa kampung Bumen masa kini dalam aspek ekonomi menghadapi persoalan tiadanya organisasi ekonomi yang kuat dan dapat menjadi wadah untuk pengembangan aktivitas ekonomi seperti yang pernah terjadi sebelum tahun 1965, lewat KPBK (Koperasi Pengusaha Blek Kotagede).  Ekonomi Bumen sekarang ini digerakan oleh perputaran uang yang terbatas di antara warga kampung sendiri, dan belum mengembangkan keunikan-keunikan yang ada secara kreatif sebagai ikon.  Seperti, produksi roti kembang waru. Produk ini bisa dikembangkan menjadi citra Bumen jika berhasil membuat ‘brand image’  melalui kemasan, pengembangan cita-rasa, dan pasar yang lebih luas.  

Menanggapi hasil temuan-temuan penelitian tersebut,  warga Bumen gembira dengan inisiatif dan temuan-temuan ini yang dapat membuka kembali ruang-ruang sunyi yang lama menghinggapi Bumen setelah peristiwa Tragedi 1965.  Penjelasan historis ini dapat menerangi beberapa persoalan yang diangkat ke permukaan, mulai dari kemunduran ekonomi dan sosial, rendahnya pendidikan, dan ketiadaan organisasi-organisasi yang dapat memperjuangkan nasib buruh dan rakyat kecil.  Salah seorang tokoh muda, Anief Rusman, menegaskan bahwa kemunduran bumen sekarang ini tidak terlepas  juga dari perkembangan teknologi modern seperti dalam kasus Pengusaha Blek, yang penting sekarang adalah bagaimana menumbuhkan investasi ke Bumen. Disamping itu, untuk menumbuhkan kreatifitas warga Bumen membutuhkan teman dan jaringan sehingga bisa keluar dari inferioritas, secara ekonomi maupun politis.  Sementara, menurut Pak Suyitno yang paling memprihatikan adalah masyarakat Bumen sekarang ini mengalami kemandegan kreatifitas. Menumbuhkan kreatifitas ini menjadi harapan untuk keluar dari kemandegan.   

Secara singkat, sarasehan ini mengerucut pada benang merah bahwa kampung Bumen masa kini menghadapi persoalan-persoalan serius terkait dengan peningkatan potensi-potensi dari aspek keruangan maupun ekonomi.  Secara kultural Bumen memiliki potensi besar sebagai untuk dikembangkan sebagai kampung wisata, seperti yang telah ditunjukkan melalui kegiatan Srawung Kampung. Kampung Bumen juga, perlu mengembangkan kreatifitas dan citra (brand imange) terhadap produk-produk khas seperti roti kembang waru sebagai ikon Bumen.  Pengembangan wadah ekonomi sangat penting untuk menjawab berbagai soal pengembangan produk, pemasaran produk dan kesejahteraan pekerja.

 

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Komentar Pembaca:
Senin, 11 Januari 2010 - 09:37:26
Cara yag dilakukan untuk meletih keatifitas diri semacam apa?
Name:
E-mail:
Website: (optional)
Comment 
Security Code  jfmwr =
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama