Warta KampungSenin, 2 November 2009
Teguh ing lampah, Rinaket ing budaya seni tradhisi, Satuhu ing budi… Adalah yang mendasari konsep “Srawung Kampung” yang dibuka dengan karnaval budaya oleh penduduk kampung Bumen pada hari Minggu kemarin, tanggal 1 November 2009 di seputaran Kotagede. “Srawung Kampung” yang dalam Bahasa Jawa berarti berinteraksi antar kampung dengan cara berbaur dengan penduduk kampung dengan segala keunikan dan potensinya, diadakan oleh segenap penduduk kampung Bumen bekerjasama dengan Yayasan Pondok Rakyat (YPR). Tujuan diadakannya acara ini, selain untuk menjaga tradisi seni dan budaya Bumen, juga sebagai media ekspresi warga kampung dan sebagai proses pewarisan sejarah kampung kepada generasi muda kampung Bumen. Dalam karnaval ini, yang menarik adalah dihidupkannya kembali sosok boneka raksasa yang disebut ‘genderuwo’ (berwujud laki-laki dan perempuan) yang sempat menghilang dan tak pernah ada lagi semenjak 1954. Dulunya, pada tahun keemasan Bumen, sekitar tahun 50-an parade ‘genderuwo’ yang diarak keliling kampung sangat populer dan selalu dinanti-nanti warga setiap ada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Karnaval budaya ini juga diikuti oleh hampir semua elemen kampung Bumen, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan orang-orang tua juga turut serta meramaikan karnaval ini dengan berbagai macam kostum yang sesuai dengan tokoh-tokoh wayang, seperti Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong), Limbuk dan Cangik, Penthul dan Tembem, dan juga Si Kera Putih, Hanoman. Ada juga pasangan pengantin laki-laki dan perempuan yang diarak lengkap dengan pengiringnya. Marisa Richest, voluntir YPR asal Jerman, mengaku sangat bangga sekali bisa mengenakan pakaian pengantin Jawa. Ada juga kelompok Sholawatan, Srandhul, anak-anak lengkap dengan topeng lucunya, remaja putri dengan keranjang sayuran dan jamu, ibu-ibu dengan roti Kembang Warunya, dan gadis-gadis kecil dengan kebaya warna-warni yang semakin menambah kemeriahan karnaval budaya “Srawung Kampung” ini. Ratusan warga Kotagede dan wartawan tampak sangat antusias melihat karnaval budaya ini di sepanjang jalanan Kotagede dan mengabadikan karnaval ini dengan jepretan kamera mereka hingga matahari tenggelam di cakrawala. |