Bahasa Indonesia | English | French
 

Oleh - oleh

Kamis, 29 Oktober 2009

Bayangkan 30 orang anak naik becak bareng bareng lalu pergi ke London untuk melihat jam besar bernama Big Ben. Ah, betapa ramai dan riuhnya!

Itulah gambaran imajinatif yang kami tuangkan dalam selembar kertas manila hitam ditambah dengan kertas warna-warni dan kain flanel yang membentuk sebuah becak (besar) dan jam (besar) untuk kelas Bahasa Inggris di Perpustakaan Bumen.

Ide pembuatan majalah dinding ini memang tak terduga datangnya. Waktu itu saya sempat bingung karena kelas Bahasa Inggris ini agak istimewa. Ada 30 murid dalam satu kelas dan mereka terbagi dalam 3 kelompok besar: kelompok TK, kelas 1-6 SD dan SMP.

Walhasil, kebingungan saya semakin menjadi karena saya berniat untuk menampilkan semua hasil karya dari masing-masing kelompok dalam satu majalah dinding. Tapi, bagaimana bisa saya mewadahi semua karya dari 30 anak tanpa menghilangkan semangat kanak-kanak yang imajinatif dan warna-warni? Akhirnya, ide becak dan jam Big Ben datang tiba-tiba pada suatu hari yang terik saat saya berkunjung di kos teman baik saya, Greg.

Kami lalu menempel sana, menempel sini, gunting sana, gunting sini. Voila! Majalah dinding karya 30 anak pun jadilah. Ada wayang mini dari stik es krim yang dibuat oleh anak-anak SD, ada gambar beber lucu-lucu karya anak-anak TK, dan ada artikel singkat tentang Hari Kemerdekaan Indonesia, Ramadhan, dan resep nasi goreng spesial yang ditulis oleh teman-teman SMP. Semuanya tertumpah dalam majalah dinding spesial Kelas Bahasa Inggris a la Bumen!

Proses belajar mengajar di Kelas Bahasa Inggris itu sendiri pun sangat asyik. Saya selalu dibantu oleh teman-teman Bumen (Ayu, Dedy & Marwan) dan voluntir YPR (Monika, Rere, Ida & Irma), serta Mbak Tri dan seorang bule gila dari Selandia Baru, Andy Blackmore yang sering kita panggil Mas Suwandi. Hahaha!

Saya menemukan banyak sekali kejutan-kejutan selama proses ini. Anak-anak Bumen yang ceria dan hiperaktif, pandangan-pandangan mereka yang polos dan lucu, kelas yang selalu ramai dan riuh karena kami bermain dan belajar dalam satu waktu, kerut-kerut yang terbentuk di dahi mereka saat mereka serius membuat karya wayang mini dari stik es krim, atau pohon keluarga dari benang dan gantungan baju, dan juga kerinduan dengan tawa dan canda mereka saat saya harus absen 2 kali karena saya sakit.

Ah, sungguh saya akan rindu untuk mengajar lagi di kampung ini!

Bumen, Juni - Agustus 2009

-invani-

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama