Bahasa Indonesia | English | French
 

Oleh - oleh

Senin, 29 Oktober 2007

Catatan Kaki Perjalanan Launching buku dan Film Inilah Pamflet Itu berlabuh di kota terakhir dari rangkaian tour 4 kotanya di Pulau Dewata. Mengapa Bali dipilih menjadi yang terakhir? Kota ini merupakan penetralisir lelah setelah acara workshop, diskusi, dan launching antologi puisi Hersri Setiawan menempuh kota Jakarta, Padang, dan Yogyakarta. Inilah tempat kita berakhir dan menikmati kelegaan menyelesaikan rantai kegiatan ini.

Malam keberangkatanku diiringi hujan rintik dan agak digelayuti rasa khawatir tentang penerbangannya. Ternyata semua bangku pesawat terisi penuh. Arrival tertunda hampir 1 jam sehingga aku tiba sekitar pukul 23.45 WITA, dan dijemput teman ngobrol via maya bernama Termana dan kekasihnya Ika yang berdarah Jepara. Mereka mengantarku ke hotel di kawasan Sanur, Lengang. Aku tinggal di hotel milik orang berkewarganegaraan Australia yang dikelola oleh orang setempat. Hotel yang sederhana, nyaman hanya dengan berhunikan sembilan kamar dan sebuah kola renang mini persis di depan kamarku.

Segera setelah mandi dan duduk-berdiri membuat catatan kecil sembari membayangkan acara besok, aku tertidur dengan cemas tak tahu jam berapa.  Jam biologisku membangunkanku pada pukul 7 WIB, masih cemas aku mandi dan bergegas sarapan ala Barat. HP berbunyi tanda SMS masuk, dari Pak Hersri yang berbunyi kalau pesawatnya maju hampir 1 jam. Segera kukontak Termana dan 1 jam kemudian Termana dan Mas Nug datang kemudian kita meluncur menjemput Pak Hersri.  

Pertemuan kembali ini terasa menyenangkan. Kita langsung ke hotel, istirahat sebentar, dilanjutkan makan siang bersama di rumah makan spesial ikan khas Bali. Hmmmmm nyummy, perut kenyang, mengantar Pak Hersri kembali ke Hotel dan aku ikut teman teman ke Taman 65. Di jalan kubayangkan tata letak Taman 65 ini seperti pendopo terbuka. Sampai di sana, bayangan ini terdekorasi ulang ternyata Taman 65 seperti rumah rumah Bali pada umumnya dengan sebidang halaman berukuran 6 x 8 m2 yang halamannya dibuat lebih tinggi dari jalan dengan ditengahnya ada kolase batu bertulis Taman 65. Taman ini dikelilingi rumah rumah keluarga dan disisi depan (dekat jalan) ada semacam pendopo kalau di tanah Jawa, tapi pendopo ini dipenuhi barang barang hingga tidak memungkinkan melangsungkan acara massa di sana. Di bagian emperan pendopo ini pemutaran visualisasi puisi  Inilah Pamflet itu diselenggarakan. 

Sore itu sebelum acara dimulai hujan gerimis yang turun sejenak sempat memupuskan harapan teman teman Taman 65 melihat jumlah tamu yang hadir, tapi the show must go on. Acara mulai pukul 18.30 WITA dengan tamu yang terus saja mengalir masuk. Rangkaian dibuka dengan sambutan yang bernada sangat kekeluargaan dari Ibu Aryati sebagai wakil dari Taman 65, ritual berdoa bersama untuk kelancaran acara malam itu turut pula dideraskan.

Selepasnya, berturut turut pembacaan puisi dibawakan oleh Bli Sabar (seorang pengrajin perak yang mantan tukan pijat), Ibu Mayun (ibu rumah tangga yang sangat bersemangat), Dewo Kerta (seniman Bali), dan Warih Wisatsana seorang pembaca puisi yang namanya sering terdengar di kancah sastra internasional. Menyusul sambutan dan langsung menuju ke diskusi buku Puisi Inilah Pamflet Itu oleh IBM Dharma Palguna, Pak Hersri Setiawan dan moderator Ngurah Termanateman mayaku. Pengulasan oleh IBM Dharma Palguna berkutat seputar isi puisi tersebut hingga hal hal kecil yang tidak disadari penulis, Pak Hersri Setiawan yang malam itu juga duduk memberi paparan tentang puisi puisi yang ditulisnya. 

Malam itu diakhiri dengan performance art oleh komunitas pojok dan acoustic guitar mendendangkan lagu lagu penyemangat dari teman teman komunitas Taman 65. Ada lagu berjudul Wacana yang dibuat oleh Saicu yang sangat dihafal oleh tamu yang lain, Bento tiba-tiba bangkit dari kubur ketika dinyayikan Robbie dari grup Navicula, Namaku Bento, rumah real estate, mobilku banyak harta melimpah, orang memanggilku boss eksekutif, tokoh papan atas atas sgalanya yang dengan kompak disahuti audiens yang hadir ASEEEK.

Malam itu acara ditutup oelh MC Ike pada jam 23.30 WITA.  Pertemuan dan cerita cerita dari Pak Hersri sepertinya masih kurang waktu semalam maka sore harinya 9 Februari 2008 jam 15.30 WITA, cerita cerita itu berlanjut, komunitas taman 65 sepertinya menemukan bapaknya sore itu, cerita yang mengharukan keluar dari Pak Hersri juga kibasan pertanyaan dari teman teman Taman 65 yang menjadi trauma healing sore itu bermunculan. Gus Indra yang pernah menulis puisi “Is My Grandfather Trully a Killer?” mengeluarkan pertanyaan secara langsung di depan teman dan saudaranya tentang Kakeknya yang katanya pernah membunuh pada tragedy 65 itu apakah ia korban atau pelaku? Pertanyaan dan cerita cerita yang belum pernah keluar sore itu hadir atas luka yang lama persimpan dan terendap selama puluhan tahuan. Gung Nini seorang Nenek sore itu bertanya tentang Pulau Buru yang pernah menjadi penjara Pak Hersri selama 8 tahun.  Pertemuan sore itu benar benar menjadi penyembuh bagi komunitas Taman 65 dan mengawali kesadaran tentang keberadaan mereka di komunitas Taman 65. 

 

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama