BeritaSenin, 29 Oktober 2007
Seorang anak nampak asyik berada di rumah panggung. Sesekali tersenyum, tak jarang senyuman itu berubah menjadi derai tawa. Terlihat kedua matanya tengah menekuni huruf dan gambar. Ia baru saja meminjam buku di Pondok Baca Ibnu Hajar. Bilik baca berbentuk panggung itu merupakan salah satu sarana yang melengkapi Ibnu Hajar sebagai taman bacaan, bermain dan berlajar.
Pondok Baca Ibnu Hajar yang berada di desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang dibalik cerita kegemilangannya sekarang tentu saja menyimpan cerita uniknya tersendiri. “Proses pendirian Pondok Baca Ibnu Hajar terbilang unik.” ujar Ida Fitri Lusiana selaku koordinator Pondok Baca Ibnu Hajar membuka cakap hari itu. Di temui di rumahanya yang juga menjadi lokasi Taman Baca Ibnu Hajar, lebih jauh Ida menjelaskan bahwa proses awal pendirian pondok baca ini bermula dari niatan masjid setempat dan pihak desa untuk memiliki pondok baca. “Bermula dari niatan masjid dan desa yang hendak mendirikan perpustakaan. Tapi koleksi buku yang dimiliki sangat terbatas. Hanya sekitar 25-30-an buku. Itu pun ada beberapa yang sudah dimakan rayap. Lagi pula soal siapa yang akan mengelola, juga menjadi kendala tersendiri.” paparnya. Lebih jauh, masih menurutnya, realisasi pendirian pondok baca ibnu hajar bermula ketika saat itu kebetulan Ida Fitri Lusiana dan keluarga memunyai koleksi buku yang lumayan banyak. Dari sumbangan buku keluarganya itulah kemudian perlahan-lahan Pondok Baca Ibnu Hajar mulai resmi di dirikan walaupun masih ala kadarnya. “Sejak itu, tahun 2003, Pondok Baca Ibnu Hajar resmi berdiri. Statusnya sebagai perpustakaan milik warga Sirahan, meski berada di halaman rumah Ida Fitri. Sirahan adalah salah satu nama desa di kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Luas keseluruhan area Ibnu Hajar sekitar 5000 meter persegi. Hanya sekitar 2400 meter persegi yang sudah termanfaatkan. Di antaranya untuk arena bermain, panggung dongeng, kolam ikan, dan jamban.” Tambah Ida yang semasa SMA produktif menulis. ”Saya pun usul, bagaimana kalau digabung saja. Buku punya masjid, desa dan koleksi keluarga saya dijadikan satu.” kisahnya, mengenang gagagasan awal pendirian Pondok Baca Ibnu Hajar. Tawaran Ida pungayung bersambut bersama pihak mesjid dan desa. Dengan penuh semangat pantang mundur ke belakang Ida menempatkan Pondok Baca Ibnu Hajar sebagai sarana mewujudkan masyarakat, khususnya warga desa Sirahan, dalam cita-cita agar mereka lebih cerdas, kreatif dan berkualitas melalui upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca, dan memfasilitasi kegiatan belajar. “Namun ketika diluncurkan, ada saja sementara masyarakat yang menilai gagasan pendirian pondok baca Ibnu hajar itu nggaya atau sok. Apa yang kami lakukan dianggap tidak cocok dengan kebutuhan masyaraka desa.” Paparnya dengan suara terjaga. Sekarang ini Pondok Baca Ibnu Hajar tidak saja menyediakan berlarik buku, hingga saat ini ada 2500 eksemplar dengan 600 anggota, yang setiap hari tak kurang dari 50 hingga 60 peminjam, tapi juga tersedia beragam tanaman langka, seperti Kayu Manis, Cermai, Kepel, dan Lempeni. Tanaman-tanaman itu dijadikan media belajar tentang pertamanan dan pertanian. Ada pula kolam ikan untuk mengajarkan anak memberi makan hewan. Secara berkala, kelas teater pun digelar. Termasuk beberapa ayunan sebagai sarana bermain sekaligus belajar anak yang menyenangkan. Tidak hanya taman baca, sekarang ini Pondok Baca Ibnu Hajar juga memiliki kelas lain, yaitu kelas teater. Malah menurut Ida Bagus Rahmat, relawan yang khusus memegang kelas teater September 2007 lalu, teater Pondok Baca Ibnu Hajar (Pijar) diundang oleh Dinas Pendidikan Kota Magelang untuk tampil di pagelaran Magelang Aksaravaganza. ”Anak-anak tidak perlu berpusing-pusing, bertanya apa itu teater, yang penting di situ mereka menjadi lebih berani bicara, berekspresi, tanpa rasa takut dan minder.” terangnya mengenai dinamika teaternya. Sebagai komunitas literasi yang bersifat nirlaba, tentu guna memenuhi biaya operasional seperti menyampuli buku, membeli kertas untuk katalogisasi buku, mengharuskan Ibnu Hajar kreatif. Malah menurut cerita Ida, suatu hari Ibnu Hajar tidak ada dana untuk menyampuli buku-buku baru yang terus bertambah. Sebagai pihak yang pasang badan, Ida Fitri Lusiana langsung menghubungi beberapa temannya yang tergolong kaya. Bukan untuk minta uang, tapi meminta barang-barang bekas yang semula akan dibuang. Ada tas, baju, celana, mukena, jaket, dan lainnya. Oleh Ida, barang-barang itu dipajang di area bermain Ibnu Hajar. Lantas ditawarkan kepada ibu-ibu warga sekitar, jika tertarik silakan ambil. Syaratnya harus meninggalkan uang untuk kas Ibnu Hajar. Seberapapun itu. Terserah. Tiap barang sengaja tidak dilabeli. Hasilnya lumayan. Angka sembilan puluh ribu terlewati. Tidak hanya itu, ke depan ida bahkan ingin mengubah garasi mobil yang terletak persis di samping kanan ruang buku menjadi ruang gerai B2P2 alias bursa barang pantas pakai. “Awalnya malu, tetapi karena ini untuk perpustakaan, bukan demi kepentingan saya pribadi, saya pikir tidak ada salahnya.” Papar Ida yang lahir 28 Maret empat puluh lima tahun lalu itu. Capaian terjauh yang hendak Ibnu Hajar tuju adalah menjadi semacam pusat kegiatan belajar masyarakat. Agar masyarakat bisa belajar apa saja dengan cara yang menyenangkan. Oleh karenanya, tidak hanya sebatas membaca, semua pengguna perpustakaan diberi wadah untuk melakukan berbagai aktivitas berderet bidang, pendidikan, pertanian, seni budaya dan lainnya. Kegigihan Ida pun ahirnya terlunasi. Ibnu Hajar sekarang sudah diakui sebagai perpustakaan warga Sirahan. Manfaat kehadirannya, sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat pun sudah dirasakan. Paling kurang oleh anak-anak. Persis seperti bunyi mural di salah satu sisi tembok rumah Ida Fitri: Dengan Membaca buku, jalan yang semula dikira buntu, tiba-tiba punya seribu pintu! []
Pondok Baca Ibnu Hajar Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang Koordinator: Ida Fitri Lusiana 0813 2842 3113
Agus M. Irkham Forum Indonesia Membaca! Komentar Pembaca:
Kamis, 20 Mei 2010 - 23:44:19
mohon petunjuknya bu ida, bagaimana caranya berproses dari nol dan sampai sekarang ini, untuk mendirikan dan memajukan pondok bacanya, karena saya seorang ibu Rumah Tangga yang ingin menyumbangkan pikiran, tenaga dan jiwa raga demi manfaat dan sumbangsih semasa hidup saya ini.
mohon saran nya, kami tunggu yach bu ida, sukses!!! |